Kado Untuk Bu Lathifah

April 2, 2009 at 2:05 pm | In cerpen gw | 2 Comments

SIANG, di dalam masjid Nurul Hidayah. Masjid ini masjid kebanggan milik kami. Masjid yang berada di depan sekolah kami. Masjid ini setiap jumat penuh oleh jemaah warga sekitar sekolah kami.
Anak-anak kelas empat, lima dan enam akan shalat Dzuhur berjama’ah di Masjid Nurul Hidayah.
“Adilla, bu Lathifah sekarang, kan, ulang tahun,” bisik Balqis pada Adilla sambil menaruh mukenanya di samping tas mukena Adilla.
“Kamu tahu dari mana?” tanya Adilla yang sudah memakai mukena putih berenda hijau.
“Dari bu Daniyah. Aku dikasih tahunya waktu aku mau ke masjid. Eh, aku mau wudhu dulu, ya!” ujar Balqis sambil berlari ke tempat wudhu perempuan, sedangkan Adilla asyik mengobrol dengan Farah, Alifah dan Khatifah.
Beberapa menit kemudian, Balqis selesai berwudhu. Balqis pun memakai mukena putihnya yang berhiaskan bordir bunga berwarna putih di bagian kepala.
“Eh, Bu Lathifah, kan ulang tahun,” kata Balqis.
“Sekarang?” tanya Farah.
“Iya.”
“Kita ngasih hadiah apa, nih ke bu…” mulut Adilla ditutup Balqis, karena sekarang di samping tempat Balqis shalat ada bu Lathifah yang baru datang.
“Nanti, di kelas.” Balqis melepaskan tangannya yang menutup mulut Adilla.
“Ok.”
***
Selesai shalat dzuhur berjamaah, Adilla, Balqis, Farah, Alifah dan Khatifah segera ke kelas mereka. Kelas lima A yang terletak di samping kelas lima B. Sesampainya di Kelas. Adilla, Balqis, Farah, Alifah dan Khatifah menuju ke pojok kelas, sedangkan anak-anak yang lain sudah pulang ke rumahnya.
“Kita patungan, yuk. Kita, kan mau beli kado buat bu Lathifah,” ucap Khatifah. Mereka mengambil uang untuk iuran. Lalu mereka hitung bersama-sama di meja Alifah.
“Total uangnya, dua puluh satu ribu,” Alifah memberitahu.
“Kita ke Pasar, yuk! Buat beli hadiah,” ajak Farah.
“Tapi aku gak bisa. Soalnya habis dari Sekolah aku les Bahasa Inggris,” kata Balqis
“Aku juga gak bisa. Takutnya nanti mimisan di jalan,” tambah Alifah. Alifah memang baru pulang dari Rumah Sakit. Dia sakit tipes dan kalau panas-panasan suka mimisan.
“Iya. Kalian gak ikut gak apa-apa, kan kalian udah iuran. Biar aku, Farah sama Khatifah yang ke Pasar,” ujar Adilla.
“Tunggu. Aku tanya dulu, ya!” pinta Khatifah. Khatifah mengambil telepon genggamnya lalu menelepon mamanya.
“Boleh, kok,” ucap Khatifah sambil menaruh telepon genggamnya ke saku seragam.
“Ayo, kita ke Pasar,” Farah mengambil sepedanya. Sedangkan Adilla dan Khatifah jalan kaki.
“Da… Alifah! Da… Balqis!” teriak Farah, Adilla dan Khatifah.
“Da…! dapet yang bagus ya!” Balas Alifah dan Balqis
“Oke deh!”
Lalu Farah, Adilla dan Khatifah berjalan menuju Pasar yang tak jauh dari Sekolahnya, SDI Nurul Hidayah. Sambil berjalan mereka mengobrol.
“Eh, kita sudah sampai,” Farah memarkir Sepedanya di depan salah satu kios. Kemudian mereka menuju kios yang menjual alat-alat tulis.
“Ada bros buat ibu-ibu gak, bu?” tanya Khatifah.
“Oh, gak ada tuh.”
“Yah… Makasih ya, bu,” balas mereka sambil berjalan menuju kios lain.
“Beli apa, ya?” tanya Farah.
“Kerudung!” usul Adilla.
“Ya! Kita beli kerudung, aja!” Mereka mencari kios yang menjual kerudung. Setelah beberapa lama mencari, akhirnya mereka menemukannya.
Mereka masuk ke dalam. Lalu mulai memilih-milih kerudung.
“Mau yang ini, aja? Ini harganya dua puluh ribu,” tunjuk penjual kerudung itu ke arah kerudung segi empat berwarna coklat.
“Iya deh, yang itu.” Adilla mengambil uang hasil iuran tadi. Lalu memberikannya pada ibu penjual itu.
Ibu itu menaruh kerudung ke kotaknya.
“Yah, bungkusnya gimana, nih?” tanya Farah.
“Mau ibu bungkusin?” tawar ibu itu.
“Boleh. Eh, Khatifah, Adilla beli kertas kado, gih,” suruh Farah.
“Ok.”
Khatifah dan Adilla menuju toko alat-alat tulis yang dikunjungi mereka tadi.
“Bu, beli kertas kado,” Adilla dan Khatifah memilih-milih kertas kado. Akhirnya mereka memutuskan untuk membeli kertas kado bergambar smiley. Mereka pun membayarnya, lalu kembali ke toko kerudung.
“Ini bu, kertas kadonya,” Khatifah menyodorkan kertas kado. Ibu penjual itu mulai bekerja.
“Eh, kartu ucapannya gimana?” tanya Khatifah berbisik.
“Aku punya notes kecil, kan bisa di robek lalu di tulis,” Adilla membuka tasnya. Lalu merobek selembar kertas dari notes pink bergambar bunga-bunga di pot. Kemudian diberikannya pada Khatifah. Khatifah pun menulis dengan bolpoint hitamnya.
Selamat ulang tahun bu Lathifah…
Semoga panjang umur…
Dan sukses selalu
Dari: Adilla, Alifah, Balqis, Farah dan Khatifah.
Mereka menaruh selembar kertas itu di atas kotak. Dengan cepat ibu penjual itu membungkus kotak yang berisi kerudung. Setelah selesai membungkus, Adilla, Farah dan Khatifah mengucap terima kasih pada ibu itu.
“Kita ngasihnya besok, waktu istirahat, ya! Kadonya dititipkan ke Adilla aja!” Farah memberi bungkusan yang berisi kado untuk bu Lathifah. Mereka pun pulang ke rumahnya masing-masing.
***
Esoknya.
Adilla melepas sepatu. Lalu Adilla menaruh sepatunya di rak sepatu kelas. Teman-temannya sudah menunggunya. Adilla menaruh tas-nya di bangkunya. Ia duduk bersama Farah.
“Hadiahnya, kerudung, ya?” tanya Alifah.
“Iya. Warna coklat. Kan bisa dipakai waktu hari Sabtu,” jawab Adilla sambil duduk di bangkunya.
“Kita ngasihnya waktu istirahat,” Khatifah memberitahu. Lalu bel berdentang tanda masuk kelas. Semua duduk di bangkunya masing-masing, lalu berdo’a dengan dipimpin ketua kelas
***
Bel berdentang dua kali tanda waktu istirahat. Murid-murid kelas lima A berhamburan keluar kelas.
“Ayo, kita ke ruang guru!” ajak Balqis sambil mengambil kado yang terletak di kolong meja Adilla.
“Come on!” lima sekawan itu keluar kelas. Lalu menuju ruang guru, yang bersebelahan dengan kantin Sekolah. Sebelum mereka masuk, mereka mengintip kaca jendela ruang guru. Di sana hanya ada bu Lathifah yang sedang duduk di bangku, sambil mengoreksi latihan-latihan murid. Mereka masuk dengan mengucap salam. Lalu mereka menuju meja bu Lathifah. Mereka deg-degan.
“Ini bu… buat ibu,”Adilla menaruh kado di meja bu Lathifah.
“Apa ini?”
“Hadiah dari kita, bu. Kan ibu ulang tahun, kemarin.”
“Wah… makasih, ya anak-anak!”
“Sama-sama bu!”
Lima sekawan itu merasa senang, karena bisa memberi hadiah pada gurunya. Ibu Lathifah pun tak kuasa menahan haru. Dipeluknya kado yang masih terbungkus rapi.

Depok, Maret 2009

& Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

  1. tulisanmu bagus sekali.tapi kenapa pakai nama samaran segala? sebut aja orangnya langsung ! kemungkinan yang bersangkutan akan lebih merasa terharu dg apa yg sdh ananda perbuat apabila beliau membaca tulisan ini.

    • Terima kasih, pak. Boleh juga ya, pak kalau diganti dg nama tokoh aslinya :D .


Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.